Minggu, 22 Mei 2016

Dosa Yang Membawa Kepada Penghukuman

Pendahuluan
Setiap orang tentunya pernah melakukan kesalahan dan tentunya kesalahan tersebut dilatar belakangi oleh berbagai hal. Mungkin tanpa disadari marah adalah suatu kesalahan yang mungkin membuat seseorang mendapatkan suatu hukuman yang berat. Beberapa kasus yang terjadi ketika seseorang dihukum akibat ia tidak bisa mengendalikan emosi dan amarahnya.
Ada masanya dimana mungkin seseorang tidak dapat mengendalikan emosinya di latar belakangi oleh beberapa faktor baik faktor internal maupun eksternal. Namun, apakah kemarahan merupakan suatu kesalahan yang dapat membuat seseorang dihukum dengan hukuman yang mungkin cukup berat. Dalam kehidupan kita tanpa kita sadari kasus seperti itu mungkin pernah terjadi.
Tokoh-tokoh dalam Alkitab juga pernah melakukan kesalahan yang sama. Salah satunya ialah Musa. Mungkin bagi orang-orang yang pernah membaca kitab Bilangan 20: 2-13 akan mengetahui kisah ini. Mungkin juga bagi orang yang membacanya akan langung mengetahui bahwa kesalahan Musa tersebut adalah kesalahan yang fatal karena dia menetang perintah Allah. Hal yang dilakukan oleh Musa tersebut membuat Tuhan marah dan menghukumnya tidak bisa menginjakkan kakinya di tanah perjanjian tersebut.
Jika diselidiki lebih lanjut akan muncul berbagi macam pertanyaan. Bila semakin dicermati tentunya akan muncul pertanyaan apakah yang membuat Musa samapai semarah itu sehingga ia melanggar perintah Allah? Karena seperti yang tercatat dalam Alkitab bahwa Tuhan mengakui bahwa Musa adalah orang yang lembut hatinya. Apakah kemarahan Musa itu memiliki penyebab?
Tidak hanya sampai disitu apakah kesalahan Musa yang hanya karena memukul gunung itu tidak bisa dimaafkan dibandingkan dengan kesalahan bangsa Israel yang selalu melanggar perintah Allah?  Merupakan suatu pertanyaan yang besar bila melihat hal tersebut. Oleh karena itu paper ini akan mencoba menjawab semua masalah yang diambil dalam kitab Bilangan 20: 2-13.



Isi
1.    Penyebab Kemarahan Musa
Musa narah bukan karena tanpa sebab tentunya, kemarahan mungkin saja dipicu oleh beberapa faktor yang mendorongnya sehingga ia tidak dapat mengontrol emosinya. Karena, seperti yang diketahui dalam setiap perjalanannya memimoin bangsa Israel menuju tanah Kanaan, tentu saja banyak tekanan yang ia alami. Tekanan tersebut bisa saja ditimbulkan dari bangsa yang ia pimpin yang merupakan bangsa yang tegar tengkuk. Atau bisa juga disebabkan oleh karena kematian kakaknya Miryam, sehingga membuat hatinya dan perasaannya saat itu sedang tidak baik.
Namun, apakah betul hal demikian? Untuk itu dalam topik ini akan dibahas mengenai apakah penyebab kemarahan Musa sehiggga ia melanggar perintah Allah.

Kematian Miryam
Kematian Miryam terkadang dianggap menjadi penyebab Musa marah kepada bangsa Israel yang selalu bersusungut dan membutanya melanggar apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya. Hal itu terjadi karena, Musa juga adalah seorang manusia. Kesedihan kehilangan saudarinya mungkin membuat dia frustasi dan mengalami kesedihan yang dalam. Namun, bila dilihat dari keadaan pada saat itu kematian kakaknya bukan penyebab utama kemarahan Musa. Ada hal yang lain lagi yang membuat Musa mara sampai ia melanggar perintah Allah.

Bangsa Israel
Dalam setiap pelayanan Musa dalam perjalanannya membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian tentunya banyak masalah dan pergumulan yang ia hadapi. Masalah dan perguulan yang ia hadapi tentunya dari bangsa yang ia pimpin sendiri. Seperti yang dikeahui, Alkiab sendiri mencatat bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk dan bebal. Dalam perjalanan menuju tanah perjanjian berulang kali bangasa Israel berungut-sungut kepada Musa. Mereka tetap tidak percaya kepada tuntunan Allah selama perjalanan mereka menuju tanah perjanjian. Tentunya hal ini bisa menjadi tekanan bagi Musa sendiri karena ia harus menahan amarahnya. Musa merasa gusar atas setiap apa yang dikatakan orang Israel yang berungkali masih tetapi tidak percaya kepada Allah. Sehingga pada suatu titik Musa melakuakn pelanggaran dimata Allah (Mazmur 106:32-33).[1]

Teori diatas bisa dijadikan bukti kemarahan Musa namun, tidak semuanya demikian. Jika dua teori diatas dipakai, maka tanpa sadar di setjui bahwa seluruh perjalanan yang dilakukan berjalan berdasarkan kekuatan Musa sendiri tanpa Tuhan turut campur tangan dalam hal tersebut. Dalam Alkitab bahwa Allah seluruhnya ikut campur dalam perjalanan yang dilakukan oleh bangsa Israel yang dimpin oleh Musa.

Dapat dikatakan kemarahan Musa disebabkan oleh karena ia melihat ketidak percayaan bangsa Israel kepada Allah. Mereka selalu bersungut-sungut karena masalah yang sama yaiyu air dan makanan dan tetap tidak mengingat Tuhan walaupun mereka telah melihat seluruh keajaiban yang telah dibuat Tuhan di depan mata mereka. Orang-orang itu menyalahkan Musa karena membawa mereka keluar dari Mesir. Keadaan bangsa Israel yang seperti itu membuat Musa marah kepada mereka karena sifat tegar tengkuk bangsa Israel. Kemarahan Musa bukan dikarenakan sungut-sungut bangsa Israel tetapi karena ketidak percayaan bangsa Isarael kepada Tuhan yag telah percaya kepada Allah

2.        Kesalahan Musa
Musa di hukum tentunya karena memiliki kesalahan, yaitu tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya. Hal itu tercatat dalam Bilangan 20:8, dimana Allah menyuruh berbicara kepada gunung batu agar mengeluarkan air tetapi ia memukul gunug batu itu sehingga dipandang jahat oleh Allah. Namun, apakah sampai disitu saja sehingga Tuhan menghukum Musa?
Kesalahan Musa bukan hanya terletak pada ketidak taatannya kepada Allah tetapi juga karena perbuatannya tesebut menjadi suatu hal yang tidak baik dimata Allah. Hal itu karena Allah menganggap apa yang dilakukan oleh Musa merupakan suatu bentuk ketidak percayaan kepada Allah ( Bilangan 20:12 ).  Sehingga Allah menghukum Musa dan tidak mengijinkan dia masuk kedalam tanah yang telah di janjikan Allah kepada bangsa Israel.

Musa Tidak Taat Kepada Allah
Musa di hukum karena ketidak taatannya kepada Allah karena tidak menaati perintah Allah dengan memukul gunug itu bukan berbicara kepada gunung itu ( Bilangan 20:11). Memang air yang keluar dari gunung batu tersebut tapi itu merupakan suatu hal yang tidak baik dihadapan Allah karena merupakan suatu ketidak taatan atas apa yang telah diperintahkan oleh Allah ( 20:12).
Perbuatan Musa menjadi jahat dimata Allah bukan karena hal yang dilakukan oleh Musa merupakan pelanggaran yang besara atau kecil. Bila kesalahan Musa hanya dilihat dari memukul bukit batu itu maka dalam kitab Bilangan 17:6, Musa memukul Gunug Horeb untuk mengeluarkan air tetapi Allah tidak menghukum dia. Kesalahan Musa bukan hanya dilihat dari sudut pandang yang berbeda merupakan kesalahan yang tidak besar. Allah melihat bahwa perintah yang diberikan kepada Musa adalah suatu hal harus dilakukan sebagai bukti bahwa Allah berkuasa untuk mengeluarkan air dari gunung batu sekalipun hanya dengan berbicara kepada gunung batu tersebut. Apa yang dilakukan oleh Musa menjadi batu sandungan bagi dirinya sendiri karena Allah menghukum dia tidak dapat mengantarkan bangsa Israel sampai merebut tanah tersebut ( Bilangan 20:12).
Ketidak taatan kepada Allah membawa seseorang kepada suatu penghukuman kepada Allah. Penghukuman Musa bukan hanya di tunjukkan kepada dirinya sendiri tetapi juga menjadi teguran kepada bangsa Israel bahwa setiap orang yang tidak percaya kepada pasti mendapatkan hukuman dari Allah sama seperti yang sebelum-sebelumnya. Ketidak taatan membawa setiap orang menjauh kepada Allah dan mengabaikan setiap perintah apa yang diucapkan oleh Allah.

Ketidak Percayaan Musa
Apakah Musa bisa tidak percaya kepada Allah walaupun dia sudah melihat Allah itu sendiri? Menarik jika dilihat bahwa Musa bisa tidak percaya dan melakukan suatu kesalahan yang melanggar kekudusan Allah. Bagaimana mungkin Musa bisa tidak percaya kepada Alllah? Dalam Bilangan 20:12 tertulis bahwa Allah mengatakan bahwa Musa dan Harun tidak percaya kepada Allah. Maksudnya ialah bahwa Musa tidak berbicara kepada gunung batu terssebut tetapi ia kemudian memukulnya. Hal itu terjadi di mungkinkan karena ia sudah tidak tahan lagi melihat perilaku bangsa Israel yang melupakan Allah.

     Perilaku Musa itu mungkin disebabkan oleh arogansinya, atau kemarahannya ketika menerima Firman Allah sehingga ketika ia melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan ia melakukan tidak sesuai dengan apa yang telah difirmankan oleh Allah.[2] Dalam hal ini kemungkinan ini mungkin masih dapat di setujui bila dilihat ari situasi yang sedang dialami oleh Musa. Namun, dari penafsiran lainnya berkata bahwa perkataan Musa bahwa “.....,haruskah kami mengeluarkan bagimu air dari bukit batu ini?” (Bilangan 20:10) merupakan suatu hal yang menunjukkan bahwa jauh di dalam dirinya ada kuasa Allh dan kekudusan Allah di mata masyarakat.[3] Hal ini yang dianggap Allah menjadi suatu hal tidak menghargai kekudusan dan ketidak percayaan kepada Allah.
           
3.    Keadilan Hukuman Allah
Dari awal pembahasan sempat dibahas bahwa apakah Allah tidak adil dalam menghukum Musa yang sudah bertahun-tahun membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian? Allah tentunya adil dalam menghukum Musa dan juga bagi bangsa Israel itu sendiri. Musa di hukum karena kesalahannya tidak menaati apa yang telah difirmankan Allah kepadanya, ia melanggar kekudusan Allah dan tidak percaya kepada Allah. Allah tentunya sudah mempertimbangkan apa yang hukuman yang ia berikan kepada Musa. Keadilan Allah itu dapat dilihat sebagai berikut:

Hukuman Musa Sama Dengan Bangsa Israel Lainnya
       Bila dilihat dari topik diatas tentunya ada rasa ketidak adilan namun, bila dilihat dari seluruh bangsa Israel yang dihukum oleh Allah semuanya melakukan kesalahan yang sama yaitu tidak taat kepada Allah dan tidak percaya kepada-Nya. Hukum setiap bangsa Israel yang tidak percaya itu adalah tidak ada satupun diantra mereka yang msuk kedalam tanah yang dijanjikan oleh Allah itu semua yang masuk adalah keturunan atau generasi-generasi yang baru dari bangsa Israel. Generasi bangsa Israel yang sebelumnya seluruhnya wafat pada saat di perjalanan atau mendapatkan hukuman tulah dari Allah.
Hukuman Musa sama dengan hukuman bangsa Israel kainnya yaitu tidak dapat masuk kedalam tanah yang dijanjikan Allah. Hukuman itu terlaksanan diata sebuah gunung yaitu Gunung Nebo. Di tempat itu Allah menyuruh Musa untuk menyerahkan jabatannya kepada hambanya Yosua sebagai pengganti dirinya untuk memimpin bangsa Israel masuk kedalam tanah tersebut. Musa naik ketasa gunung dan Allah mengumpulkannya bersama dengan para leluhurnya.

Musa Masih Dapat Melihat Tanah Perjanjian
            Walaupun Musa tidak dapat masuk kedalam tanah tersebut tetapi Allah masih mengijinkannya untuk melihat seluruh tanah itu. Allah menyuruhnya naik keatas gunug itu bukan berarti Allah mengangkatnya melainkan Allah menyuruhnya untuk melihat seluruh keadaan di tanah itu. Ia menyaksikan betapa indah dan suburnya seluruh tempat itu dari atas Gunung Nebi itu. Setelah melihat keadaan tanah itu lalu Allah mengangkatnya dan mengumpulkannya bersama-sama dengan para leluhurnya (Bilangan 34:1-5). Dalam bilangan 34:6 dikatakan bahwa Allah memakamkan Musa disebuah lembah didataran Moab di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu dimana kuburannya.
             
Adanya Pergantian Kepemimpinan
            Walaupun Musa dihukum dengan tidak dapat masuk ke tanah tersebut tentunya Allah memikirkan siapa pengganti yang tepat untukmenggantikan posisi Musa untuk membawa bangsa Israel sehingga dapat memasuki tanah itu. Untuk itu Allah memilih Yosua sebagai penggantinya dikarenakan mungkin Yosua adalah seorang hamba Musa yang setia dan ia tahu apa yang harus dilakukan untuk memimpin bangsa Israel karena ia sudah lama bersama-sama dengan Musa memimpin bangsa itu. Penggantian ini bukan hanya karena hukuman yang dialami oleh Musa melainkan juga karena umur Musa yang sudah tidak memungkinkan lagi.
            Dalam bilangan 31:3 Musa mengatakan bahwa umurnya sudah seratus dua puluh tahun dan sudah tidak mampu lagi untuk melakukan perjalananya. Salah satu tafsiran mengatakn bahwa umur tersebut berdasarkan hitungan tiga kali 40tahun. Karena orang Ibrani menganggap satu generasi berlangsung sekitar empat puluh tahun, angaka 120 menandakan sudah tiga kali generasi semenjak keluarnya dari tanah Mesir yang berarti umur Musa memang sudah sangat tua sehingga memerlukan seseorang utnuk menggantikan posisinya.[4] Dalam hal ini tindakan Allah menghukum Musa sudah dipikirkan sejak dulunya sehingga dapat dilihat keadilan Allah dalam menghukum bukan karena kekejaman-Nya melainkan karena kasih-Nya.

Relevansinya Dengan Kehidupan Orang Percaya
          Bila dilihat mengenai Musa dan dosa yang ia lakukan terhadap Tuhan selama masa kepemimpinannya hanya satu kali ia melakukan kesalahan yang membuat dia dihukum oleh Allah karena ketidak percayaannya kepada Allah. Kesalahan yang dilakukan oleh Musa adalah kesalahan yang berasal dari dirinya semdiri yang melanggar perintah Allah. Kesalahan itu bukan karena sungut-sungutnya bangsa Israel yang membuat Musa tidak dapat mengenadalikan emosinya. Bukan masalah memukul bukit batu itu yang menjadi masalahnya melainkan peninggian diri dan otoritas dari dirinya yang seakan-akan menempatkan dirinya diposisi Allah melalui kata-katanya tersebut.[5]
          Karena kesalahan tersebut Musa duhukum tidak dapat masuk kedalam tanah yang dijanjikan tersebut. Penghukuman itu walaupun terlihat tidak berat tetapi bagi pribadi Musa sendiri itu adalah suatu hukuman yang besar karena, bila dilihat dari lamanya waktu Musa memimpin dan jarak yang ditempuh sudah sangat dekat maka itu adalah hal yang sangat menyiksa perasaan Musa sendiri walaupun  akhirnya Allah hanya berkenan kepada Musa untuk dapat melihat tempat itu dari atas gunug Nebo.
        Kesalahan yang dilakuakan oleh Musa dapat dilihat pada masa sekarang ini. Dalam beberapa kasus kepemimpinan banyak pemimpin-pemimpin yang melakukan kesalahan, bukan hanya kesalahan kecil tetapi juga kesalahan yang sangat besar dimata masyarakatnya. Kesalahan yang mereka lakukan sadar atau tanpa sadar telah melukai hati orang-orang yang telah percaya kepadanya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa seluruh pelangaran yang terjadi bukan berasal dari faktor luar diri melainkan dari dalam diri itu sendiri. Hal itu dapat dipastikan karena kesalahan terjadi karena sudah ada rencana yang timbul dalam pikiran setiap pribadi untuk melakukannya.
        Hal ini menjadi suatu tantangan bagi kehidupan orang-orang percaya karena dalam kehidupan orang percaya kesalahan yang dilakukan oleh Musa merupakan gambaran kesalahan yang terjadi pada masa sekarang ini. Orang-orang percaya tentunya ada orang-orang percaya yang menjadi pemimpin baik itu dalam pemerinthan maupun dalam suatu kelompok tertentu. Kesalahan yang dialami selalu saja sama yaitu kehilangan pengendalian diri dalam memimpin. Kesalahannya yaitu lupa akan anugrah Allah yang memberikan jabatan tersebut kepadanya. Tinggi hati selalu menjadi musuh utama tiap orang yang menjadi pemimpin.
          Hal-hal demikian menjadi pelajaran bagi setiap orang percaya karena dalam kehidupan orang percaya yang utama adalah kepercayaan kepada Allah yang sudah memberikan sebuah kedudukan kepada seseorang. Kerendahan hati menjadi tuntutan bagi setiap orang percaya sebagai pemimpin. Mengingat bahwa keudukan adalha pemberian Allah semata membuat setiap orang dapat mengendalikan dirinya akan kesombongan dan tinggi hati. Oleh karena itu, pengenalan akan Allah sangat penting dalam kepemimpinan, jika pemimpin percaya akan tuntunan Allah dalam menjalankan tugasnya tenttunya dia dapat menjalaninya sesuai apa yang dikehendaki oleh Allah dalam dirinya.  



Kesimpulan
            Dari semua pembahasan yang telah dibahas dapat disimpulkan bahwa kesalahn Musa bukan disebabkan oleh kematian kakaknya maupun karena kekerasan hati bangsa Israel. Dalam hal ini Musa bukanlah marah melainkan ia kehilangan pengendalian dirinya dan melupakan kuasa dan kedudukan Allah sebagai pemimpin yang utama yang berkuasa untuk melakukan mujizat. Perkataan Musa menjadi bukti bahwa ia tidak percaya dan tindakannya membuktikan ketidaktaatan kepada apa yang diperintahkan Allah kepadanya.
            Walaupun Musa dihukum, Allah tetap menunjukkan kasih dan keadilannya kepada Musa dan kepada bangsa Israel. Hukuman Allah terhadap Musa sama dengan hukuman yang dijatuhkan Allah kepada bangsa Israel. Allah masih mengijinkan Musa untuk melihat tanah yang di janjikan Allah akan diberikan kepada bangsa Israel. Dari semua hal itu dapat disimpulkan Allah selalu bertindak adil dalam setiap apa yang Ia lakukan. Allah tidak membeda-bedakna orang lain sesuai dengan apa yang ia telah lakukan tetapi, ia melihat bahwa setiap orang yang melakukan kesalahan harus tetap dihukum.
           
Keadilan Allah kepada bangsa Israel adalah Allah memilih pengganti Musa yaitu Yosua yang akan membawa bangsa Israel memasuki Tanah Kanaan. Dari hal ini dapat dilihat bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya berjalan seorang diri. Allah selalu menyertai umat-Nya sehingga umat tersebut tidak kehilangan arah. Tanpa Musa dihukum pun Allah tetap menggantikan posisi Musa karena hal itu sudah menjadi bagian dari rencana Allah. Hal itu dikarenakan keadaan Musa pada saat itu yang sudah sangat lanjut umurnya dan mungkin sudah tidak mampu lagi maju ke medan perang untuk dapat merebut tanah yang dijanjikan oleh Allah.




[1] Nn, Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 ( Kejadian-Ester ), Revisi (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1990), 269.
[2] Walter Riggans, Numbers, 2 (Philadelphia: The Daily Study Bibles, 1973), 152.
[3] Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison, The Wycliffe Bible Comentary (Chicago: Moody Press, 1962), 138.
[4] Nn, Alkitab Edisi Studi (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2010), 329.
[5] Merlin F. Unger, Unger’s Bible Handbook, 8 ed. (Chicago: Moody Press, 1975), 132.

Pernahkah kamu berada dalam satu situasi di mana kamu tidak lagi tahu harus melangkah ke mana dan harus melakukan apa lagi? Setiap orang pa...