Pendahuluan
Setiap orang tentunya pernah melakukan
kesalahan dan tentunya kesalahan tersebut dilatar belakangi oleh berbagai hal.
Mungkin tanpa disadari marah adalah suatu kesalahan yang mungkin membuat
seseorang mendapatkan suatu hukuman yang berat. Beberapa kasus yang terjadi
ketika seseorang dihukum akibat ia tidak bisa mengendalikan emosi dan
amarahnya.
Ada masanya dimana mungkin seseorang tidak
dapat mengendalikan emosinya di latar belakangi oleh beberapa faktor baik
faktor internal maupun eksternal. Namun, apakah kemarahan merupakan suatu
kesalahan yang dapat membuat seseorang dihukum dengan hukuman yang mungkin
cukup berat. Dalam kehidupan kita tanpa kita sadari kasus seperti itu mungkin
pernah terjadi.
Tokoh-tokoh dalam Alkitab juga pernah melakukan
kesalahan yang sama. Salah satunya ialah Musa. Mungkin bagi orang-orang yang
pernah membaca kitab Bilangan 20: 2-13 akan mengetahui kisah ini. Mungkin juga
bagi orang yang membacanya akan langung mengetahui bahwa kesalahan Musa tersebut
adalah kesalahan yang fatal karena dia menetang perintah Allah. Hal yang
dilakukan oleh Musa tersebut membuat Tuhan marah dan menghukumnya tidak bisa
menginjakkan kakinya di tanah perjanjian tersebut.
Jika diselidiki lebih lanjut akan muncul
berbagi macam pertanyaan. Bila semakin dicermati tentunya akan muncul
pertanyaan apakah yang membuat Musa samapai semarah itu sehingga ia melanggar
perintah Allah? Karena seperti yang tercatat dalam Alkitab bahwa Tuhan mengakui
bahwa Musa adalah orang yang lembut hatinya. Apakah kemarahan Musa itu memiliki
penyebab?
Tidak hanya sampai disitu apakah kesalahan Musa
yang hanya karena memukul gunung itu tidak bisa dimaafkan dibandingkan dengan
kesalahan bangsa Israel yang selalu melanggar perintah Allah? Merupakan suatu pertanyaan yang besar bila
melihat hal tersebut. Oleh karena itu paper
ini akan mencoba menjawab semua masalah yang diambil dalam kitab Bilangan 20:
2-13.
Isi
1.
Penyebab Kemarahan Musa
Musa narah bukan karena tanpa sebab tentunya, kemarahan
mungkin saja dipicu oleh beberapa faktor yang mendorongnya sehingga ia tidak
dapat mengontrol emosinya. Karena, seperti yang diketahui dalam setiap
perjalanannya memimoin bangsa Israel menuju tanah Kanaan, tentu saja banyak
tekanan yang ia alami. Tekanan tersebut bisa saja ditimbulkan dari bangsa yang
ia pimpin yang merupakan bangsa yang tegar tengkuk. Atau bisa juga disebabkan
oleh karena kematian kakaknya Miryam, sehingga membuat hatinya dan perasaannya
saat itu sedang tidak baik.
Namun, apakah betul hal demikian? Untuk itu
dalam topik ini akan dibahas mengenai apakah penyebab kemarahan Musa sehiggga
ia melanggar perintah Allah.
Kematian Miryam
Kematian Miryam terkadang
dianggap menjadi penyebab Musa marah kepada bangsa Israel yang selalu
bersusungut dan membutanya melanggar apa yang telah diperintahkan Allah
kepadanya. Hal itu terjadi karena, Musa juga adalah seorang manusia. Kesedihan
kehilangan saudarinya mungkin membuat dia frustasi dan mengalami kesedihan yang
dalam. Namun, bila dilihat dari keadaan pada saat itu kematian kakaknya bukan
penyebab utama kemarahan Musa. Ada hal yang lain lagi yang membuat Musa mara
sampai ia melanggar perintah Allah.
Bangsa Israel
Dalam setiap pelayanan Musa
dalam perjalanannya membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian tentunya
banyak masalah dan pergumulan yang ia hadapi. Masalah dan perguulan yang ia
hadapi tentunya dari bangsa yang ia pimpin sendiri. Seperti yang dikeahui,
Alkiab sendiri mencatat bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk
dan bebal. Dalam perjalanan menuju tanah perjanjian berulang kali bangasa
Israel berungut-sungut kepada Musa. Mereka tetap tidak percaya kepada tuntunan
Allah selama perjalanan mereka menuju tanah perjanjian. Tentunya hal ini bisa
menjadi tekanan bagi Musa sendiri karena ia harus menahan amarahnya. Musa
merasa gusar atas setiap apa yang dikatakan orang Israel yang berungkali masih
tetapi tidak percaya kepada Allah. Sehingga pada suatu titik Musa melakuakn
pelanggaran dimata Allah (Mazmur 106:32-33).[1]
Teori diatas bisa dijadikan bukti kemarahan
Musa namun, tidak semuanya demikian. Jika dua teori diatas dipakai, maka tanpa
sadar di setjui bahwa seluruh perjalanan yang dilakukan berjalan berdasarkan
kekuatan Musa sendiri tanpa Tuhan turut campur tangan dalam hal tersebut. Dalam
Alkitab bahwa Allah seluruhnya ikut campur dalam perjalanan yang dilakukan oleh
bangsa Israel yang dimpin oleh Musa.
Dapat dikatakan kemarahan Musa disebabkan oleh
karena ia melihat ketidak percayaan bangsa Israel kepada Allah. Mereka selalu
bersungut-sungut karena masalah yang sama yaiyu air dan makanan dan tetap tidak
mengingat Tuhan walaupun mereka telah melihat seluruh keajaiban yang telah
dibuat Tuhan di depan mata mereka. Orang-orang itu menyalahkan Musa karena
membawa mereka keluar dari Mesir. Keadaan bangsa Israel yang seperti itu
membuat Musa marah kepada mereka karena sifat tegar tengkuk bangsa Israel. Kemarahan
Musa bukan dikarenakan sungut-sungut bangsa Israel tetapi karena ketidak
percayaan bangsa Isarael kepada Tuhan yag telah percaya kepada Allah
2.
Kesalahan Musa
Musa di hukum tentunya karena memiliki
kesalahan, yaitu tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya. Hal itu
tercatat dalam Bilangan 20:8, dimana Allah menyuruh berbicara kepada gunung
batu agar mengeluarkan air tetapi ia memukul gunug batu itu sehingga dipandang
jahat oleh Allah. Namun, apakah sampai disitu saja sehingga Tuhan menghukum
Musa?
Kesalahan Musa bukan hanya terletak pada
ketidak taatannya kepada Allah tetapi juga karena perbuatannya tesebut menjadi
suatu hal yang tidak baik dimata Allah. Hal itu karena Allah menganggap apa
yang dilakukan oleh Musa merupakan suatu bentuk ketidak percayaan kepada Allah
( Bilangan 20:12 ). Sehingga Allah
menghukum Musa dan tidak mengijinkan dia masuk kedalam tanah yang telah di
janjikan Allah kepada bangsa Israel.
Musa Tidak Taat Kepada Allah
Musa di hukum karena ketidak taatannya kepada
Allah karena tidak menaati perintah Allah dengan memukul gunug itu bukan
berbicara kepada gunung itu ( Bilangan 20:11). Memang air yang keluar dari
gunung batu tersebut tapi itu merupakan suatu hal yang tidak baik dihadapan
Allah karena merupakan suatu ketidak taatan atas apa yang telah diperintahkan
oleh Allah ( 20:12).
Perbuatan Musa menjadi jahat dimata Allah bukan
karena hal yang dilakukan oleh Musa merupakan pelanggaran yang besara atau
kecil. Bila kesalahan Musa hanya dilihat dari memukul bukit batu itu maka dalam
kitab Bilangan 17:6, Musa memukul Gunug Horeb untuk mengeluarkan air tetapi
Allah tidak menghukum dia. Kesalahan Musa bukan hanya dilihat dari sudut pandang
yang berbeda merupakan kesalahan yang tidak besar. Allah melihat bahwa perintah
yang diberikan kepada Musa adalah suatu hal harus dilakukan sebagai bukti bahwa
Allah berkuasa untuk mengeluarkan air dari gunung batu sekalipun hanya dengan
berbicara kepada gunung batu tersebut. Apa yang dilakukan oleh Musa menjadi
batu sandungan bagi dirinya sendiri karena Allah menghukum dia tidak dapat
mengantarkan bangsa Israel sampai merebut tanah tersebut ( Bilangan 20:12).
Ketidak taatan kepada Allah membawa seseorang
kepada suatu penghukuman kepada Allah. Penghukuman Musa bukan hanya di
tunjukkan kepada dirinya sendiri tetapi juga menjadi teguran kepada bangsa
Israel bahwa setiap orang yang tidak percaya kepada pasti mendapatkan hukuman
dari Allah sama seperti yang sebelum-sebelumnya. Ketidak taatan membawa setiap
orang menjauh kepada Allah dan mengabaikan setiap perintah apa yang diucapkan
oleh Allah.
Ketidak Percayaan Musa
Apakah Musa bisa tidak percaya kepada Allah
walaupun dia sudah melihat Allah itu sendiri? Menarik jika dilihat bahwa Musa
bisa tidak percaya dan melakukan suatu kesalahan yang melanggar kekudusan
Allah. Bagaimana mungkin Musa bisa tidak percaya kepada Alllah? Dalam Bilangan
20:12 tertulis bahwa Allah mengatakan bahwa Musa dan Harun tidak percaya kepada
Allah. Maksudnya ialah bahwa Musa tidak berbicara kepada gunung batu terssebut
tetapi ia kemudian memukulnya. Hal itu terjadi di mungkinkan karena ia sudah
tidak tahan lagi melihat perilaku bangsa Israel yang melupakan Allah.
Perilaku Musa itu
mungkin disebabkan oleh arogansinya, atau kemarahannya ketika menerima Firman
Allah sehingga ketika ia melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan ia melakukan
tidak sesuai dengan apa yang telah difirmankan oleh Allah.[2] Dalam hal ini kemungkinan ini mungkin masih dapat di setujui bila
dilihat ari situasi yang sedang dialami oleh Musa. Namun, dari penafsiran
lainnya berkata bahwa perkataan Musa bahwa “.....,haruskah kami mengeluarkan
bagimu air dari bukit batu ini?” (Bilangan 20:10) merupakan suatu hal yang
menunjukkan bahwa jauh di dalam dirinya ada kuasa Allh dan kekudusan Allah di
mata masyarakat.[3] Hal ini yang dianggap Allah menjadi suatu hal tidak menghargai
kekudusan dan ketidak percayaan kepada Allah.
3.
Keadilan Hukuman Allah
Dari awal pembahasan sempat dibahas bahwa
apakah Allah tidak adil dalam menghukum Musa yang sudah bertahun-tahun membawa
bangsa Israel menuju tanah perjanjian? Allah tentunya adil dalam menghukum Musa
dan juga bagi bangsa Israel itu sendiri. Musa di hukum karena kesalahannya
tidak menaati apa yang telah difirmankan Allah kepadanya, ia melanggar
kekudusan Allah dan tidak percaya kepada Allah. Allah tentunya sudah
mempertimbangkan apa yang hukuman yang ia berikan kepada Musa. Keadilan Allah
itu dapat dilihat sebagai berikut:
Hukuman Musa Sama Dengan Bangsa Israel Lainnya
Bila
dilihat dari topik diatas tentunya ada rasa ketidak adilan namun, bila dilihat
dari seluruh bangsa Israel yang dihukum oleh Allah semuanya melakukan kesalahan
yang sama yaitu tidak taat kepada Allah dan tidak percaya kepada-Nya. Hukum
setiap bangsa Israel yang tidak percaya itu adalah tidak ada satupun diantra
mereka yang msuk kedalam tanah yang dijanjikan oleh Allah itu semua yang masuk
adalah keturunan atau generasi-generasi yang baru dari bangsa Israel. Generasi
bangsa Israel yang sebelumnya seluruhnya wafat pada saat di perjalanan atau
mendapatkan hukuman tulah dari Allah.
Hukuman Musa sama dengan
hukuman bangsa Israel kainnya yaitu tidak dapat masuk kedalam tanah yang
dijanjikan Allah. Hukuman itu terlaksanan diata sebuah gunung yaitu Gunung
Nebo. Di tempat itu Allah menyuruh Musa untuk menyerahkan jabatannya kepada
hambanya Yosua sebagai pengganti dirinya untuk memimpin bangsa Israel masuk
kedalam tanah tersebut. Musa naik ketasa gunung dan Allah mengumpulkannya
bersama dengan para leluhurnya.
Musa Masih Dapat Melihat Tanah Perjanjian
Walaupun Musa tidak dapat masuk kedalam
tanah tersebut tetapi Allah masih mengijinkannya untuk melihat seluruh tanah
itu. Allah menyuruhnya naik keatas gunug itu bukan berarti Allah mengangkatnya
melainkan Allah menyuruhnya untuk melihat seluruh keadaan di tanah itu. Ia
menyaksikan betapa indah dan suburnya seluruh tempat itu dari atas Gunung Nebi
itu. Setelah melihat keadaan tanah itu lalu Allah mengangkatnya dan
mengumpulkannya bersama-sama dengan para leluhurnya (Bilangan 34:1-5). Dalam
bilangan 34:6 dikatakan bahwa Allah memakamkan Musa disebuah lembah didataran
Moab di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu dimana kuburannya.
Adanya Pergantian Kepemimpinan
Walaupun Musa
dihukum dengan tidak dapat masuk ke tanah tersebut tentunya Allah memikirkan
siapa pengganti yang tepat untukmenggantikan posisi Musa untuk membawa bangsa
Israel sehingga dapat memasuki tanah itu. Untuk itu Allah memilih Yosua sebagai
penggantinya dikarenakan mungkin Yosua adalah seorang hamba Musa yang setia dan
ia tahu apa yang harus dilakukan untuk memimpin bangsa Israel karena ia sudah
lama bersama-sama dengan Musa memimpin bangsa itu. Penggantian ini bukan hanya
karena hukuman yang dialami oleh Musa melainkan juga karena umur Musa yang
sudah tidak memungkinkan lagi.
Dalam bilangan 31:3
Musa mengatakan bahwa umurnya sudah seratus dua puluh tahun dan sudah tidak
mampu lagi untuk melakukan perjalananya. Salah satu tafsiran mengatakn bahwa
umur tersebut berdasarkan hitungan tiga kali 40tahun. Karena orang Ibrani
menganggap satu generasi berlangsung sekitar empat puluh tahun, angaka 120
menandakan sudah tiga kali generasi semenjak keluarnya dari tanah Mesir yang
berarti umur Musa memang sudah sangat tua sehingga memerlukan seseorang utnuk
menggantikan posisinya.[4] Dalam hal ini tindakan Allah menghukum Musa sudah dipikirkan sejak
dulunya sehingga dapat dilihat keadilan Allah dalam menghukum bukan karena
kekejaman-Nya melainkan karena kasih-Nya.
Relevansinya Dengan Kehidupan
Orang Percaya
Bila dilihat mengenai Musa
dan dosa yang ia lakukan terhadap Tuhan selama masa kepemimpinannya hanya satu
kali ia melakukan kesalahan yang membuat dia dihukum oleh Allah karena ketidak
percayaannya kepada Allah. Kesalahan yang dilakukan oleh Musa adalah kesalahan
yang berasal dari dirinya semdiri yang melanggar perintah Allah. Kesalahan itu
bukan karena sungut-sungutnya bangsa Israel yang membuat Musa tidak dapat
mengenadalikan emosinya. Bukan masalah memukul bukit batu itu yang menjadi
masalahnya melainkan peninggian diri dan otoritas dari dirinya yang seakan-akan
menempatkan dirinya diposisi Allah melalui kata-katanya tersebut.[5]
Karena kesalahan tersebut Musa duhukum tidak dapat masuk
kedalam tanah yang dijanjikan tersebut. Penghukuman itu walaupun terlihat tidak
berat tetapi bagi pribadi Musa sendiri itu adalah suatu hukuman yang besar
karena, bila dilihat dari lamanya waktu Musa memimpin dan jarak yang ditempuh
sudah sangat dekat maka itu adalah hal yang sangat menyiksa perasaan Musa
sendiri walaupun akhirnya Allah hanya
berkenan kepada Musa untuk dapat melihat tempat itu dari atas gunug Nebo.
Kesalahan yang
dilakuakan oleh Musa dapat dilihat pada masa sekarang ini. Dalam beberapa kasus
kepemimpinan banyak pemimpin-pemimpin yang melakukan kesalahan, bukan hanya
kesalahan kecil tetapi juga kesalahan yang sangat besar dimata masyarakatnya.
Kesalahan yang mereka lakukan sadar atau tanpa sadar telah melukai hati
orang-orang yang telah percaya kepadanya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa
seluruh pelangaran yang terjadi bukan berasal dari faktor luar diri melainkan
dari dalam diri itu sendiri. Hal itu dapat dipastikan karena kesalahan terjadi
karena sudah ada rencana yang timbul dalam pikiran setiap pribadi untuk
melakukannya.
Hal ini menjadi
suatu tantangan bagi kehidupan orang-orang percaya karena dalam kehidupan orang
percaya kesalahan yang dilakukan oleh Musa merupakan gambaran kesalahan yang
terjadi pada masa sekarang ini. Orang-orang percaya tentunya ada orang-orang
percaya yang menjadi pemimpin baik itu dalam pemerinthan maupun dalam suatu
kelompok tertentu. Kesalahan yang dialami selalu saja sama yaitu kehilangan
pengendalian diri dalam memimpin. Kesalahannya yaitu lupa akan anugrah Allah
yang memberikan jabatan tersebut kepadanya. Tinggi hati selalu menjadi musuh
utama tiap orang yang menjadi pemimpin.
Hal-hal demikian
menjadi pelajaran bagi setiap orang percaya karena dalam kehidupan orang
percaya yang utama adalah kepercayaan kepada Allah yang sudah memberikan sebuah
kedudukan kepada seseorang. Kerendahan hati menjadi tuntutan bagi setiap orang
percaya sebagai pemimpin. Mengingat bahwa keudukan adalha pemberian Allah
semata membuat setiap orang dapat mengendalikan dirinya akan kesombongan dan
tinggi hati. Oleh karena itu, pengenalan akan Allah sangat penting dalam
kepemimpinan, jika pemimpin percaya akan tuntunan Allah dalam menjalankan
tugasnya tenttunya dia dapat menjalaninya sesuai apa yang dikehendaki oleh
Allah dalam dirinya.
Kesimpulan
Dari semua pembahasan yang
telah dibahas dapat disimpulkan bahwa kesalahn Musa bukan disebabkan oleh
kematian kakaknya maupun karena kekerasan hati bangsa Israel. Dalam hal ini
Musa bukanlah marah melainkan ia kehilangan pengendalian dirinya dan melupakan
kuasa dan kedudukan Allah sebagai pemimpin yang utama yang berkuasa untuk
melakukan mujizat. Perkataan Musa menjadi bukti bahwa ia tidak percaya dan
tindakannya membuktikan ketidaktaatan kepada apa yang diperintahkan Allah kepadanya.
Walaupun Musa
dihukum, Allah tetap menunjukkan kasih dan keadilannya kepada Musa dan kepada
bangsa Israel. Hukuman Allah terhadap Musa sama dengan hukuman yang dijatuhkan
Allah kepada bangsa Israel. Allah masih mengijinkan Musa untuk melihat tanah yang
di janjikan Allah akan diberikan kepada bangsa Israel. Dari semua hal itu dapat
disimpulkan Allah selalu bertindak adil dalam setiap apa yang Ia lakukan. Allah
tidak membeda-bedakna orang lain sesuai dengan apa yang ia telah lakukan
tetapi, ia melihat bahwa setiap orang yang melakukan kesalahan harus tetap
dihukum.
Keadilan Allah kepada bangsa Israel adalah
Allah memilih pengganti Musa yaitu Yosua yang akan membawa bangsa Israel
memasuki Tanah Kanaan. Dari hal ini dapat dilihat bahwa Allah tidak meninggalkan
umat-Nya berjalan seorang diri. Allah selalu menyertai umat-Nya sehingga umat
tersebut tidak kehilangan arah. Tanpa Musa dihukum pun Allah tetap menggantikan
posisi Musa karena hal itu sudah menjadi bagian dari rencana Allah. Hal itu
dikarenakan keadaan Musa pada saat itu yang sudah sangat lanjut umurnya dan
mungkin sudah tidak mampu lagi maju ke medan perang untuk dapat merebut tanah
yang dijanjikan oleh Allah.